Singep kayu munggur Wintaos di ganti Di bulan Muharram
Paryani 19 Juni 2026 09:00:13 WIB
- Girimulyo sida Jumat 19 Juni 2026 .
Membaca Semesta Lewat Rasa: Filosofi Utuh Tradisi Ganti Singep & Sholawat Jawa di Padukuhan Wintaos*
Di balik perbukitan karst Kapanewon Panggang, Gunungkidul, tepatnya di Padukuhan Wintaos, Kalurahan Girimulyo, harmoni kehidupan masih dijaga dengan anggun. Setiap Bulan Suro atau Muharram, warga secara turun-temurun menggelar ritus sakral: *Prosesi Ganti Singep* atau *Krepyak* pada Pohon Munggur.
Rangkaian ini bukan sekadar rutinitas adat. Ia adalah siklus spiritualitas utuh yang mempertemukan 3 tali hubungan: _Hablumminallah_ kepada Tuhan, _Hablumminannas_ kepada sesama, dan _Hablumminalam_ kepada alam semesta.
1. Suro: Ruang Refleksi dan Pembaruan
Pemilihan bulan Suro punya landasan filosofis kuat dalam kosmologi Jawa-Islam.
*Sasi Suro sebagai ruang refleksi*
Bagi orang Jawa, Suro waktunya _mulat sarira_ - introspeksi diri dan _tirakat_ menahan hawa nafsu. Dalam Islam, Muharram adalah bulan suci penuh berkah sejarah.
*Pembersihan diri dan lingkungan*
Mengganti kain penutup pohon di awal tahun baru melambangkan semangat lembaran baru yang lebih bersih. Seperti manusia memperbarui hidup, alam di sekitar juga ikut "dibersihkan" secara simbolis. Ini doa agar Padukuhan Wintaos sepanjang tahun dijauhkan dari marabahaya, _tolak bala_.
2. Dimulai dari Sholawat Jawa: Menyatukan Iman dan Budaya
Ritual tidak dimulai dengan palu atau perbaikan fisik, tapi dengan gema Sholawat Jawa di bawah rindangnya pohon.
*Penyucian niat - Nglenggana*
Melantunkan sholawat adalah bentuk _sowan_ atau _kulonuwun_ spiritual kepada Sang Pencipta. Warga sadar manusia tak punya daya tanpa rida Allah SWT. Sholawat jadi wasilah agar seluruh acara membawa berkah.
*Manunggalnya iman dan akar budaya*
Cengkok Jawa yang syahdu mencerminkan watak orang Jawa: lembut dan _andhap asor_ di hadapan Tuhan. Nabi Muhammad SAW diposisikan sebagai panutan moral tertinggi yang menuntun manusia memahami _Sangkan Paraning Dumadi_ - dari mana asal dan ke mana kembali.
3. Hamemayu Hayuning Bawana: Teologi Lingkungan
Pusat tradisi ini adalah penggantian _singep_ atau _krepyak_ pada Pohon Munggur atau Trembesi raksasa. Di sini tersimpan kearifan ekologis luar biasa.
*Pohon sebagai penjaga air*
Gunungkidul berbasis batu kapur, jadi air adalah anugerah termahal. Secara ilmiah, Munggur mampu mengikat air tanah dan menjaga kelembaban. Leluhur Wintaos menangkap ini lewat bahasa simbolik: pohon diuri-uri, dirawat khusus.
*Simbol perlindungan ekologis*
Mengganti singep adalah komitmen warga untuk menghormati dan melindungi. Ini wujud nyata _Hamemayu Hayuning Bawana_ - kewajiban manusia memperindah dan menjaga bumi. Memagari pohon berarti ada hukum adat tak tertulis yang melarang siapa pun merusak sumber kehidupan itu.
4. Ditutup dengan Genduri: Merekatkan Sesama
Setelah spiritual lewat sholawat dan alam lewat pohon ditunaikan, ritual ditutup dimensi sosial: *Genduri Suro*.
*Nasi liwet & nasi gurih*
Nasi simbol kemakmuran dan berkah sandang pangan dari bumi subur. Rasa gurih melambangkan kemantapan hati dan tekad warga hidup selaras.
*Ayam ingkung*
Ayam utuh bersimpuh melambangkan _manungkul_ - kepasrahan total manusia di hadapan Sang Pencipta. Di awal Suro, ingkung mengingatkan manusia menanggalkan ego dan sombong.
*Filosofi bersila bersama*
Dalam genduri tak ada sekat. Sesepuh, tokoh masyarakat, petani, pemuda duduk di tikar yang sama, makan hidangan sama. Ini puncak _rukun_ dan _gotong royong_, wujud zakat sosial yang menguatkan tali persaudaraan menjelang tahun baru.
Rangkaian Ganti Singep di bulan Suro oleh warga Wintaos, Girimulyo, adalah potret kosmologi Jawa-Islam yang paripurna.
Lewat Sholawat Jawa, hubungan ke atas dengan Tuhan dan Rasul dibersihkan. Lewat Ganti Singep Munggur, hubungan ke samping dengan alam semesta dirawat agar tak rusak. Lewat Genduri Nasi Gurih Ingkung, hubungan ke sesama manusia direkatkan dalam harmoni damai.
Tradisi ini titip pesan abadi untuk kita yang modern: menjaga bumi tak melulu soal teori ekologi formal. Bumi bisa dirawat dengan rasa hormat, ketukan rebana sholawat, dan sepiring nasi gurih penuh berkah di bulan yang suci.
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
Komentar Terkini
-
Sansan Wawa
artikel yang inspiratif :)...baca selengkapnya
06 November 2014 13:06:57 WIB
Peta Desa
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Total Visitor | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |














