Ada sesuatu di lapangan baru Prahu
04 Agustus 2026 21:03:10 WIB
Girimulyo sida Selasa Pon 4 Agustus 2026 . Malam. Ini dilapangan baru Padukuhan Prahu dilaksanakan malam tirakatan sekaligus doa bersama. Doa dan Rasa Syukur dari Pelataran Panca Manunggal: Menyambut Porkal Girimulyo 2026
Malam ini, di bawah temaram lampu Lapangan Voli Panca Manunggal, Padukuhan Prau, Kalurahan Girimulyo, kebersamaan warga berdenyut dalam kekhusyukan doa. Di atas hamparan tikar, para sesepuh dan warga duduk bersila, mengitari barisan sesaji tradisi yang sarat akan makna mendalam. Genduri Tembung Bumi ini digelar bukan sekadar ritual seremonial, melainkan sebuah ikhtiar spiritual untuk memohon izin, keselamatan, dan kelancaran kepada Sang Pencipta.
Lapangan kebanggaan warga ini disiapkan menjadi arena utama perhelatan akbar Porkal (Pekan Olahraga Kalurahan) Girimulyo 2026 yang resmi bergulir pada 5 Agustus 2026. Melalui momentum kompetisi olahraga yang meriah guna memeringati Hari Kemerdekaan Indonesia sekaligus menyongsong masa tanam baru (Sedekah Labuh), warga Prau sepakat mengawali langkah dengan "tembung" (meminta izin secara santun kepada alam dan penciptanya). Doa-doa tulus dilambungkan agar rangkaian acara dari awal hingga akhir berjalan mulus tanpa aral melintang, memupuk persatuan, serta mendatangkan keberkahan bagi bumi Girimulyo.
Nasi putih gurih yang dimasak dengan perasan santan kelapa melambangkan permohonan agar hidup warga selalu diliputi kenikmatan yang merata. Warna putih bersihnya mengejawantahkan kesucian lahir dan batin.
Proses memasak nasi liwet yang membutuhkan ketelatenan mengajarkan nilai ketekunan, keharmonisan, serta semangat gotong royong warga dalam menyukseskan hajat besar Porkal.
Kata ingkung berakar dari frasa ing-sun mene-kung, yang berarti "aku berdoa dengan khidmat dan penuh kepasrahan". Daging ayam kampung yang dimasak utuh dalam posisi bersimpuh melambangkan manusia yang menundukkan ego di hadapan Sang Khalik.
Kehadiran ingkung ini menjadi simbol permohonan perlindungan total agar lapangan dan seluruh atlet yang bertanding dijauhkan dari marabahaya serta cedera fisik.
Sajian ketan bubur beraneka rupa melambangkan kiblat papat lima pancer, mewakili berbagai elemen kehidupan dan sifat manusia. Warna merah melambangkan asal-muasal dari ibu (darah), putih melambangkan kesucian dari ayah, sementara kombinasi warna lainnya melambangkan keberagaman sifat dunia.
Dalam bingkai Porkal, jenang manca warna ini menyimbolkan bahwa meski pertandingan nanti diikuti oleh berbagai padukuhan dengan latar belakang yang berbeda-beda, semuanya harus tetap menyatu dalam satu ikatan sportivitas yang damai.
Jajanan pasar adalah simbol kemakmuran, kelancaran rezeki, serta kerukunan sosial. Hal ini menjadi doa agar Porkal 2026 mampu menghidupkan suasana kegembiraan, memutar roda ekonomi warga sekitar, dan menjadi sarana hiburan rakyat yang berkah menjelang musim sedekah labuh.
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
Komentar Terkini
-
Sansan Wawa
artikel yang inspiratif :)...baca selengkapnya
06 November 2014 13:06:57 WIB
Peta Desa
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Total Visitor | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |











