kenduri maulid di padukuhan Wintaos

24 Agustus 2026 22:14:19 WIB

Harmoni Spiritual Nusantara: Menelusuri Filosofi Jawa dan Nafas Islam dalam Genduri Maulid di Padukuhan Wintaos. 

 

Malam penuh berkah menyelimuti Padukuhan Wintaos pada Senin Pon (malam Selasa Wage), 24 Agustus 2026. Bertepatan dengan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, masyarakat berkumpul dengan khidmat dalam tradisi Genduri Maulid (Muludhan). Di bawah pimpinan seorang Kaum, Rois, atau sesepuh dusun, untaian doa komunal diikrarkan secara sakral di atas hamparan tikar. Tradisi ini bukan sekadar perayaan kultural riuh, melainkan cerminan mendalam dari titik temu kebudayaan Jawa yang bersahaja dan nilai transendental tauhid Islam.

 

Inti sajian dari genduri ini adalah kehadiran dua tumpeng gunungan yang dibuat kembar identik. Dalam kosmologi Islam Jawa, setiap bagian penyusun tumpeng ini membawa pesan filosofis yang kuat:

 

Bentuk Gunungan (Kerucut): Bentuk ini merepresentasikan konsep “tumapaking penguripan-tumindak lempeng tumuju Pangeran”, yang berarti kiblat kehidupan manusia harus berjalan lurus menuju Sang Pencipta. Bentuk kerucut yang meruncing ke atas menegaskan hubungan vertikal (hablum minallah) dan puncak rasa syukur yang bermuara hanya kepada Allah SWT.

 

Nasi Putih Polos: Penggunaan nasi putih (bukan nasi kuning) sengaja dipilih untuk melambangkan kesucian hati, ketulusan niat, dan kesederhanaan akhlak mulia yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

 

Dua Tumpeng yang Sama: Lambang keseimbangan hidup yang kokoh, seperti konsep keselarasan antara pemenuhan hak spiritual kepada Tuhan (hablum minallah) dengan kewajiban menjaga kerukunan sosial antarsesama manusia (hablum minannas).

 

Lauk Tempe, Keripik Kacang, dan Kerupuk: Penataan lauk-pauk yang bertumpuk hingga ke puncak menyiratkan urutan rezeki dan jalinan kehidupan. Tempe dan keripik kacang melambangkan kesederhanaan, kebersamaan, dan ikatan persaudaraan yang erat di tingkat akar rumput. Sementara kerupuk yang ringan di bagian paling atas menyimbolkan kelapangan dada, kegembiraan jiwa, serta keikhlasan dalam menerima berkah dari Yang Maha Kuasa.

 

Genduri Muludhan ini berhasil menjembatani adat leluhur dengan syariat Islam melalui tiga pilar esensial:

 

Ekspresi Cinta kepada Rasulullah (Mahabbah): Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bergembira dan bersyukur atas lahirnya sang pembawa rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil 'Alamin). Genduri ini menjadi wadah kultural untuk melantunkan selawat dan mengingat kembali keluhuran akhlak Nabi.

 

Ritual Doa Bersama (Doa Jama'ah): Kehadiran bapak Kaum atau Rois yang mengikrarkan hajat (ngujubke) menggunakan kombinasi bahasa Jawa halus dan untaian doa islami, merupakan bentuk perwujudan kepasrahan total kepada Allah SWT.

 

Sedekah dan Silaturahmi (Sadaqah & Ukhuwah): Makanan yang dibawa gotong-royong lalu dimakan bersama atau dibagikan secara acak pascadoa adalah bentuk nyata dari anjuran sedekah pangan (it'amuth tha'am). Aktivitas ini meluruhkan sekat-sekat sosial dan mempererat tali silaturahmi antarwarga padukuhan.

 

Melalui keindahan tradisi di Padukuhan Wintaos ini, masyarakat tidak kehilangan identitas kejawaannya saat merengkuh nilai-nilai keislaman. Adat dirawat, iman diperkuat, melahirkan sebuah perayaan spiritualitas yang sejuk dan sarat makna.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
Komentar Terkini
  • Sansan Wawa
    artikel yang inspiratif :)...baca selengkapnya
    06 November 2014 13:06:57 WIB
Galeri Foto
Peta Desa
Statistik Kunjungan
Hari ini
Kemarin
Total Visitor
Media Sosial