Sorgum Wintaos
24 September 2026 20:23:26 WIB
Girimulyo sida Kamis 24 September 2026
Dari Tanah Wintaos, Kembali untuk Wintaos
Sorgum, Lumbung Kompos, dan Gerakan “Tandur Bungah” di Padukuhan Wintaos
Wintaos, Girimulyo, Panggang, Gunungkidul — Sebuah gerakan kecil sedang tumbuh di Padukuhan Wintaos. Gerakan tersebut berangkat dari tanah, benih, dan kepedulian masyarakat terhadap pangan serta lingkungan. Melalui pengembangan tanaman sorgum, pengolahan kompos, dan kegiatan belajar bersama, masyarakat Wintaos mulai membangun kembali hubungan antara tanah, pangan, dan kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini digagas melalui kerja sama mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Ruri Suanto, dengan Padepokan Tompak Watu, serta melibatkan masyarakat dan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Padukuhan Wintaos, Kalurahan Girimulyo, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul.
Gagasan utamanya sederhana: menghidupkan kembali tanaman pangan yang mulai jarang ditanam, memanfaatkan apa yang tersedia di lingkungan, dan mengembalikan manfaatnya kepada masyarakat.
Dari Wintaos, Tumbuh Kembali Sorgum
Pada Juli 2026, masyarakat mulai menanam sorgum sebagai salah satu tanaman pangan alternatif. Tanaman ini dipilih untuk dikenalkan dan dikembangkan sebagai sumber pangan selain beras.
Setelah melalui proses pertumbuhan dan perawatan, sorgum tersebut berhasil dipanen pada September 2026. Panen ini menjadi pengalaman penting bagi masyarakat karena menunjukkan bahwa sorgum dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai bagian dari potensi pangan lokal.
Namun, hasil panen tidak hanya dipandang sebagai hasil akhir. Sebagian benih sorgum akan dibagikan kepada warga Padukuhan Wintaos dan masyarakat sekitar agar dapat ditanam kembali.
Dengan cara ini, benih tidak berhenti di satu lahan. Ia berpindah dari tangan ke tangan, dari satu keluarga ke keluarga lainnya, dan diharapkan tumbuh menjadi tanaman yang semakin dikenal masyarakat.
Dari tanah Wintaos, Girimulyo, kembali untuk Wintaos, Girimulyo.
Kalimat tersebut menjadi semangat bahwa hasil yang tumbuh dari tanah masyarakat sedapat mungkin kembali memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ibu-Ibu “Tandur Bungah” Menyiapkan Benih
Di balik kegiatan penanaman tersebut, ada peran penting dari para ibu yang tergabung dalam semangat “Tandur Bungah”.
Di Pendopo Tompak Watu, ibu-ibu bersama-sama menyiapkan biji sorgum yang akan digunakan untuk kegiatan penanaman. Kegiatan sederhana tersebut menjadi ruang untuk bertemu, belajar, berbagi pengalaman, dan mempersiapkan masa depan pangan dari sesuatu yang sangat kecil: sebutir benih.
Bagi mereka, menyiapkan benih bukan hanya pekerjaan teknis pertanian. Benih adalah awal dari sebuah kehidupan baru. Ketika benih ditanam, yang ditanam bukan hanya tanaman, tetapi juga harapan agar tanah tetap hidup dan masyarakat memiliki pilihan pangan yang lebih beragam.
Semangat Tandur Bungah menjadi bagian dari filosofi Padepokan Tompak Watu:
«“Nandur Bungah, menanam kebaikan dan kebahagiaan untuk alam semesta dan manusia.”»
Semangat tersebut menjadikan kegiatan bercocok tanam bukan sekadar aktivitas menghasilkan bahan pangan. Menanam dipahami sebagai bentuk merawat kehidupan, berbagi manfaat, dan menjaga hubungan manusia dengan alam.
Pendopo Tompak Watu sebagai Ruang Belajar
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Pendopo Tompak Watu tidak hanya menjadi tempat berkumpul. Pendopo menjadi ruang belajar bersama, tempat masyarakat dapat bertukar pengetahuan dan mengembangkan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pangan, pertanian, lingkungan, dan kemandirian.
Tompak Watu membawa gagasan sebagai “Ruang Belajar dan Rumah Mandiri”.
Di ruang tersebut, pengetahuan tidak hanya datang dari buku atau ruang kelas. Pengetahuan juga tumbuh dari pengalaman warga, dari tanah yang ditanami, dari benih yang disiapkan, dari hasil panen, dari daun kering yang dikumpulkan, hingga dari makanan yang dibuat bersama.
Mahasiswa UGM, masyarakat, KWT, dan Padepokan Tompak Watu dapat saling belajar dalam posisi yang setara. Pengalaman masyarakat menjadi pengetahuan, sementara pengetahuan baru menjadi tambahan bagi masyarakat untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi Wintaos.
Dari Sorgum Menjadi Pangan Sehari-hari
Setelah sorgum dipanen, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengenalan cara pengolahan sorgum menjadi tepung dan berbagai produk pangan.
Ibu-ibu KWT mendapatkan pembelajaran untuk mengolah tepung sorgum menjadi berbagai macam makanan dan camilan, termasuk roti. Kegiatan ini menjadi penting karena tanaman pangan akan semakin bermanfaat apabila masyarakat mampu mengolahnya menjadi makanan yang dapat dikonsumsi keluarga.
Pengolahan tersebut juga membuka kemungkinan munculnya produk pangan lokal yang memiliki nilai tambah. Sorgum yang awalnya hanya berupa biji dapat melalui proses pengolahan menjadi tepung, kemudian menjadi berbagai jenis makanan.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang ditanam?” tetapi berkembang menjadi pertanyaan yang lebih jauh:
“Apa yang dapat kita buat dari hasil yang tumbuh di tanah sendiri?”
Lumbung Kompos Wintaos: Daun Kering yang Kembali Menjadi Kehidupan
Selain sorgum, kepedulian terhadap lingkungan diwujudkan melalui pengembangan Lumbung Kompos Wintaos.
Program ini berangkat dari kondisi yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Daun-daun kering yang berjatuhan, termasuk daun jati dan berbagai bahan organik lainnya, sering kali dibakar karena dianggap sebagai limbah.
Melalui Lumbung Kompos Wintaos, bahan-bahan tersebut mulai dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
Daun kering bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang. Ia merupakan bahan organik yang masih dapat dikembalikan kepada tanah melalui proses pengomposan.
Lumbung Kompos menjadi ruang untuk mengumpulkan dan mengolah bahan organik tersebut menjadi pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan kembali untuk tanaman dan lahan pertanian.
Dengan demikian, kegiatan ini berusaha mengubah pola:
dari membakar → mengolah → mengembalikan kepada tanah.
Apa yang berasal dari tanah, setelah melalui proses kehidupan manusia, pada akhirnya dikembalikan lagi kepada tanah dalam bentuk yang bermanfaat.
Sorgum dan Kompos: Dua Gerakan yang Saling Menguatkan
Pengembangan sorgum dan Lumbung Kompos Wintaos menjadi dua bagian dari satu gagasan yang lebih besar: membangun kemandirian berbasis potensi lokal.
Sorgum menyediakan alternatif pangan.
Kompos membantu menjaga kesuburan tanah.
KWT mengembangkan keterampilan pengolahan pangan.
Warga menjadi bagian dari proses penanaman dan penyebaran benih.
Padepokan Tompak Watu menjadi ruang belajar dan berkegiatan.
Sementara mahasiswa UGM turut membawa pengetahuan, gagasan, dan energi untuk mempertemukan berbagai potensi tersebut.
Semua bagian tersebut saling berhubungan dalam satu ekosistem kegiatan masyarakat.
Menanam Bukan Sekadar Menanam
Semangat Tandur Bungah mengajak masyarakat untuk melihat kegiatan menanam dengan cara yang lebih luas.
Menanam berarti memberi kesempatan kepada khidupan untuk tumbuh.
Menanam sorgum berarti menanam pilihan pangan.
Menanam kompos berarti menanam kepedulian terhadap tanah.
Menyiapkan benih berarti menyiapkan keberlanjuan.
Mengolah makanan berarti menanam keterampilan.
Dan berbagi benih berarti menanam pengetahuan agar dapat tumbuh di tempat lain.
Karena itu, kegiatan di Wintaos bukan semata-mata tentang sorgum. Sorgum hanyalah salah satu pintu masuk untuk membangun kembali hubungan masyarakat dengan tanah dan sumber pangan di sekitarnya.
Dari Tanah Wintaos, Kembali untuk Wintaos
Ada sebuah lingkaran yang ingin dibangun melalui kegiatan ini.
Tanah Wintaos menumbuhkan sorgum.
Sorgum menjadi pangan.
Sebagian hasilnya menjadi benih.
Benih kembali dibagikan kepada warga.
Warga menanam kembali.
Daun dan bahan organik yang tersisa dikembalikan menjadi kompos.
Kompos kembali menyuburkan tanah
Dan dari tanah tersebut, kehidupan kembali tumbuh.
Inilah semangat yang ingin dibangun:
«Dari tanah Wintaos, Girimulyo, kembali untuk Wintaos, Girimulyo.»
Sebuah gagasan bahwa pembangunan masyarakat tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari sebutir benih, segenggam tanah, selembar daun kering, dan sekelompok orang yang mau belajar serta bekerja bersama.
Menumbuhkan Kebaikan dari Wintaos
Kegiatan yang dimulai pada Juli 2026 dengan penanaman sorgum dan berlanjut hingga panen pada September 2026 menjadi langkah awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Ke depan, pembagian benih kepada warga diharapkan dapat memperluas penanaman sorgum di Wintaos. Keterampilan pengolahan pangan diharapkan terus berkembang di kalangan ibu-ibu KWT. Lumbung Kompos diharapkan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat dalam mengelola bahan organik.
Dan Pendopo Tompak Watu diharapkan terus menjadi tempat bertemunya gagasan, pengetahuan, pengalaman, dan semangat masyarakat untuk belajar secara bersama-sama.
Sebab pada akhirnya, Tandur Bungah bukan hanya tentang menanam tanaman. Tandur Bungah adalah tentang menanam kebaikan.
Kebaikan untuk tanah.
Kebaikan untuk pangan.
Kebaikan untuk lingkungan.
Kebaikan untuk masyarakat.
Dan kebaikan yang diharapkan dapat tumbuh melampaui Wintaos, sebagaimana sebuah benih yang terus berpindah dan tumbuh di tanah yang baru.
Nandur Bungah — menanam kebaikan dan kebahagiaan untuk alam semesta dan manusia.
Dari Wintaos, untuk Wintaos. Dari tanah, kembali kepada tanah. Dari masyarakat, kembali untuk masyarakat.
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
Komentar Terkini
-
Sansan Wawa
artikel yang inspiratif :)...baca selengkapnya
06 November 2014 13:06:57 WIB
Peta Desa
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Total Visitor | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |













