Dibalik Kenduri Borak barik
30 September 2026 16:15:40 WIB
Girimulyo sida .Rabu 30 September 2026
Mengintip Kekayaan Makna di Balik Kenduri Borak Barik Pasca Ijab Kabul
**Kenduri Borak Barik** merupakan salah satu tradisi selamatan adat Jawa yang digelar sesaat setelah pengantin selesai melaksanakan prosesi ijab kabul. Istilah "Borak Barik" atau "Barak Barik" dalam kearifan lokal sering dikaitkan dengan harapan datangnya keberkahan yang berlipat ganda, serta sebagai simbol penolak bala agar kehidupan rumah tangga yang baru saja diikrarkan senantiasa dijauhkan dari rintangan, sengkala, maupun mara bahaya.
Kenduri ini bukan sekadar jamuan makan bersama, melainkan sebuah bentuk diplomasi spiritual kebudayaan yang dikemas melalui simbol-simbol makanan (sajen/sarana). Setiap elemen makanan yang tersaji di atas tikar anyaman memiliki rajutan doa spiritual yang mendalam bagi sepasang kekasih yang baru menempuh hidup baru:
### 1. Ayam Ingkung
Ayam ingkung disajikan secara utuh dalam kondisi melengkung (biasanya menggunakan ayam kampung jantan). Kata "ingkung" berasal dari frasa *ingkuwung* atau *jinengkung*, yang berarti mengayomi atau sujud menyembah.
* **Filosofi:** Melambangkan kepasrahan total dan sujud syukur manusia kepada Gusti Allah SWT. Dalam pernikahan, ingkung menjadi doa agar sang suami dapat menjadi kepala keluarga yang mengayomi, membimbing, serta melindungi istrinya dengan tulus.
### 2. Nasi Among (Sego Among)
Nasi among biasanya berupa nasi putih yang dilengkapi dengan sayuran urap/kuluban dan diletakkan di atas daun pisang.
* **Filosofi:** Berasal dari kata *momong* atau mengasuh. Sarana ini ditujukan sebagai bentuk penghormatan kepada *Sadrék Bayi* atau *Kakang Kawah Adi Ari-ari* (saudara spiritual manusia) agar ikut "memomong" dan menjaga kedua mempelai dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang penuh dengan perbedaan karakter.
### 3. Nasi Jejek / Tumpeng Jejek
Berbeda dengan tumpeng megono yang diaduk atau tumpeng yang puncaknya dihias rumit, nasi jejek diletakkan tegak lurus secara kokoh dan mandiri di atas takir daun pisang. Kata *jejek* atau *jejegg* dalam bahasa Jawa berarti tegak, lurus, dan konsisten.
* **Filosofi:** Menjadi simbol komitmen dan prinsip yang kokoh. Kedua mempelai diharapkan memiliki pendirian yang *jejek* (teguh) dalam mempertahankan ikatan suci pernikahan, tidak mudah goyah oleh godaan luar, serta selalu berjalan di jalan yang lurus (sesuai tuntunan agama dan norma masyarakat).
### 4. Nasi Krawu Kuning (Dua Piring)
Nasi kuning krawu yang disajikan khusus sebanyak 2 piring melambangkan penyatuan dua individu. Warna kuning diambil dari kunyit yang melambangkan keagungan, kejayaan, dan rezeki yang melimpah.
* **Filosofi:** Jumlah dua piring secara tegas mewakili sosok suami dan istri yang kini telah bersatu. Melalui nasi krawu kuning ini, terselip doa agar kehidupan ekonomi keluarga baru tersebut selalu dinaungi kebahagiaan, kemuliaan, serta rezeki yang berkilau layaknya warna emas (kuning).
Melalui sebait doa yang dipimpin oleh sesepuh atau kaum rois, hidangan-hidangan sarat makna ini kemudian dibagikan kepada kerabat dan tetangga yang hadir. Tradisi Kenduri Borak Barik menjadi fondasi awal bagi pengantin baru, mengingatkan mereka bahwa melangkah ke gerbang pernikahan harus diawali dengan hati yang bersih, rasa syukur yang utuh, serta kerelaan untuk saling memomong satu sama lain.
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
Komentar Terkini
-
Sansan Wawa
artikel yang inspiratif :)...baca selengkapnya
06 November 2014 13:06:57 WIB
Peta Desa
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Total Visitor | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |








